our bestfriend’s wedding ceremony

*Sebelumnya, saya mohon maaf, sama sekali saya tdk bermaksud sara atau apapun, hanya berbagi cerita saja kok :)…

Mari kita (kita???? saya doank kaliiii..) cerita ttg perngalaman pertama si saya melihat resepsi pernikahan dari Sumatra Utara ini, g tau de adat di sana cuma batak ato ada yg laen ga ya?!? Bner2 minim pngetahuan niy, heuheu…

Jadi gini, tgl 15 Mei kmrn, salah satu personel tim hura2 kami itu akhirnya melepas masa lajangnya (woho..betapa ruginya itu perempuan :))..) di jakarta. Nah, dikarenakan tim hura2 ini selalu tidak ada kerjaan, jadi dengan sangat senang hati kami menghadiri undangan beliau ini. Oke, meluncurlah kita jam 8 pagi ke Jakarta. Dikarenakan jam 10 lewat udh nyampe kelapa gading aja gtu (secara acaranya jam 12 yak, klo mau dateng ‘akad’nya, brarti k gereja dunkz yak), akhirnya si kami meluncur ke MKG dulu dah tu, lumayan lah cuci mata+numpang ganti baju d WCnya.

Akhirnya setelah jarum jam di tangan menunjukkan waktu setengah 12, baru de tu markicauuuu ke tempat yg bersangkutan. Tanpa g pake nyasar2, g nyampe 10 menit aja udh nyampe dah tu. Nahhhhh…the story began dah. Halahhhh…………

Setelah kami dateng dan mobil pun diparkir d tempat yg seharusnya, si kami tidak ada yg berani turun dr mobil saudara-saudara…. Kenapa eh kenapa, karena eh karena, kami tampak anomali di antara mereka (tamu2) semua… Sebenernya siy bukan suatu masalah besar dan tidak seharusnya spt itu, tapi karena ini pengalaman kami yang pertama kali menghadiri acara resepsi pernikahan dengan adat yang bersangkutan.

Oke, kenapa anomali, karena tiga diantara kami ini menggunakan jilbab dan mungkin wajah kami merupakan wajah yang paling tidak berparaskan daerah sumatra (mskipun satu diantara kami ada yg org padang, tp muka dia mah bukan muka sumatra), karena skali lg bukan bermaksud menyinggung warga propinsi bersangkutan, namun memang wong north sumatra ini mempunyai paras yg khas (setiap propinsi pasti mempunyai ciri khasnya masing2).

Nah…dari awal kami sudah heran, kok banyak bgt yg bawa keranjang spt keranjang anyaman rotan, kami bner2 blank dengan semua itu. Oke, akhirnya kami memutuskan untuk turun dr mobil. Dan benarrrrr.. semua mata tertuju pada kami, teuing tah kunaon nya, hihihihi… Ya sud, tak apa lah, toh kita dateng memang krn diundang kok, hehe… Saat kita ‘intip’ gedungnya, si kami mulai tegang kembali, kenapa…karena rupanya dsana sudah tersusun meja makan beserta kursi pastinya dan sudah ada makanan yang terhidang dengan piringnya masing2. Nah lohhhh.. trus d setiap area sudah bertuliskan ‘hula-hula tulang’ dan ‘peranakan’ *maaf klo ada salah penulisan. Trusssss…kita dimanaaaaa??? huikzzzz…… Mau nanya, tp pada takut de tuh. Setelah kami ngider2 kyk anak ilang, baru de ada kluarga pengangtin perempuan (sodara kembarnya) yang memberi tahu bahwa utk tamu nasional itu di atas. Beuuuuu.. niy si temen kita brarti ngasih taunya terbalik, katanya tamu nasional d bawah, heuheu.. dasar oncom dia mah…….

Kami pun duduk d tribun atas dan dengan sangat jelas memperhatikan sang pengantin dengan upacara yang sedang mereka jalani.  Wewwww.. we’re really ammazed to saw that ceremony. Jadi, semua tamu itu berbaris dan pada akhirnya semua tamu saling bersalaman secara teratur. Jadi, ya hasilnya semua tamu (yg pastinya saudara kali ya?!?) pasti saling kenal dan saling bertegur sapa, kerennnnnnn…

Nah ini, setelah itu, ada upacara dari dua keluarga yg bersangkutan (pengantennya mah kipas2 doank dah tu d pelaminan). Upacaranya adalah pemotongan ‘nguik2’, hihihihi… Kami takjub, tp jujur, geliiiiiiiiiiii, takut pula, karena yaaaa..tau kan di agama kita mah kan haram, jadi we pada ngeri (ngerinya jgn dikonotasikan negatif ya). Selama acara resepsi itu berlangsung, lagu batak selalu berkumandang dan jujur, jadi gatel buat goyang, enakeun iramanya, tp g ada satupun yg kita kenal lagunya, hihihi :D….

Akhirnya setelah ada doa bersama, kami pun makan. Untuk tamu nasional, hanya makan makanan yang disediakan di tribun atas. Nah, masalahnya..dikarenakan kita udh ngliat nguik2 itu, jadinya qta bner2 takut utk makan, huhu.. Tapi dikarenakan ada stand soto dan yg melayani kami pun berjilbab, jadi kita menganggap itulah yg paling aman, hehe… Setelah itu, makan es krim dah. Dannnn pulanggggggg…… Oh iya, sebelumnya qta udh bersalam2an kok ma pengantennya, krn pengantennya yg naik k atas, g mungkin klo kita yg k bawah, krn acara adatnya terus berlangsung.

Yap, I think enough for the story telling, karena memang sudah selesai acara resepsinya dan kami pun pulang, mampir dulu de k simpang raya, karena laparrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.

Bner2 ya, Indonesia itu kaya akan budaya. Ayo2 yg mau nikah dr berbagai suku, dengan adat daerahnya masing2, undang2 ya… biar nambah pengalaman, nambah ilmu, nambah referensi pula, lohhhhhh :D……

Advertisements

3 thoughts on “our bestfriend’s wedding ceremony

  1. Weleh.. Ada notulen nikahan Bang Deni.. Bagus….Bagus…:mrgreen:
    Tapi….tapi…tapi….

    (mskipun satu diantara kami ada yg org padang, tp muka dia mah bukan muka sumatra)

    \
    APAAA!!!

    *ngaca dulu… 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s