The One -mom’s version-

Tadinya sih mau posting tentang LiDAR niy, tapi tiba2 ga pede untuk launching ke blog, secara sama pembimbing aja belum d acc yak :D. Jadinya yaaa.. nyampah dikit lah… Kenapa eh kenapa si saya bisa ngblog ria, karena eh karena kantor sepi, lg pada presentasi di PU (katanya!), jadi ya beginilah nasib seseorang yg statusnya tidak jelas (status d kantor ini maksudnya!).

Back to the title! Hmmmmmm… The One yang saya maksud disini adalah He’s The One (He? Just because I’m a woman). Mengingat usia yang hampir sampai pada quarter century, yang mana menurut saya termasuk masa kritis atau masa galau para wanita (ato cuma si saya ya?!?) dalam pencarian pendamping hidup sampai ajal menjemput pastinya. Tiba2 teringat percakapan empat mata dengan salah seorang kamerad di salah satu tempat makan kawasan Dago Bandung sekitar lima tahun yang lalu mungkin ya, beliau bertanya: “Maneh dek milih nu mana: Mencintai atau Dicintai?” à ketauan bgt yak kameradnya siapa :D. Hmmm..dengan mudahnya saya menjawab: “Dicintai!”. Selain itu juga saya pernah ditanya dengan pertanyaan yg sama oleh seseorang yang terakhir mengisi hati saya 2 tahun kmrn dan saya pun menjawab dengan jawaban yg sama. Perbedaannya hanya terletak pada respon. Untuk yang pertama kali, saya mendapat respon standar, beliau bertanya, jadi apapun itu jawabannya ya itu hak saya dan saya punya alasan sendiri mengapa saya menjawab ‘itu’. Nah kalau yang kedua itu, beliau tidak menerima jawaban saya (hayang nakol kan, geus mah nanya, ngomel pulak!). Memang alasannya masuk akal sih, yang namanya memutuskan untuk menjalin hubungan atau membuat komitmen antara 2 manusia, ya sebenarnya harus dua2nya, mencintai dan dicintai juga. Tapi ini kan jika memang saya harus memilih, ya saya lebih memilih dicintai. Menurut beliau, saya tidak menyayangi diri saya, kehidupan saya, dan tidak pernah menjadikan diri saya ini sebagai prioritas dalam pengambilan keputusan. Hmmm..menurut saya sih bukan seperti itu, malah karena saya terlalu menyayangi diri saya, maka dari itu saya lebih baik memilih dicintai terlebih dahulu, karena saya takut kecewa andaikan saya harus mencintai terlebih dahulu. Memang terdengar pengecut, namun ya itulah saya.

Terlalu banyak yang mempengaruhi saya dalam proses pengambilan keputusan untuk pencarian the one ini. Khususnya keluarga! Namun, sebenarnya the one untuk saya ini mudah saja yaitu anyone who can make my mom become depent on him. Udah satu itu saja sebenarnya. Ya InsyaAllah saya percaya siapapun yang bisa melakukan itu pasti dia sayang mama saya, keluarga saya, dan SEHARUSNYA sayang sama saya juga ya (kalo engga, ngapain masuk2 ke dalam lingkup keluarga saya!!! EMOSI!!!). Hehe..itu sebenarnya tidak mudah juga sih, mengingat impian mama akan calon suami untuk saya ini. Klo bisa jangan ini, itu, dan kawan2 lah. Mamaaaaa…kapan si saya nemuin the one ini atuh mama (T.T). Tapi memang sama mama dipermudah lagi sih: “ya mama mah g pngen macem2 kok, kalo bisa sih ayu dapetin orang jawa aja, toh banyak kan cowok jawa berkeliaran, tu liat semua sepupu kamu bahkan kakak2 kamu dapetin orang jawa semua, lagian temen kmu banyak kan yg jawa?”. Hmmm..dipikir2 bner juga sih, memang banyak teman jawa bahkan hampir semua teman saya juga mendapatkan pacar jawa, TAPI kok saya ya mbok susah toh dapetin the one wong jowo iki (T.T). Sebenarnya pada intinya mama dan keluarga hanya ingin yang terbaik untuk saya, apalagi ini menyangkut penambahan keluarga besar untuk seumur hidup. Toh saya yakin, kalau mama sudah respect dan ‘jatuh cinta’ dengan calon saya ini untuk first impression, dijamin deh, hilang tuh yang namanya masalah suku, ras, dan kawan2. Sudah terbukti kok, saya pernah mendapatkan orang jawa, tp toh dicaci maki bahkan diusir juga sama mama, tapi giliran saya menemukan seseorang berdarah sumatera barat (SumBar) yang notabennya mamah ogah banget punya mantu Padang, ehhh..mama ga peduli tuh malah makin cinta aja tuh (ya iyalahhhhhhh..baru ketauan berdarah SumBar setelah 2 tahun pacaran :D).

Hahahahaha…itu hanya cerita dari mama saya, belum lagi beberapa tahap atau tes yg harus dilalui saat berhadapan dengan kakak2 saya yang super selektif dan jahil. Nanti ada lagi sepupu2 saya yang tidak kalah jahilnya, huwooo… Memang harus bermental baja lah.

Dikarenakan status saya saat ini yang baru saja merubah semua rencana hidup, maka dalam tahun ini saya tidak ada sedikitpun rencana untuk mengakhiri masa lajang saya. Kalau untuk mencari calonnya, hmmm…nanti dulu juga deh, saya sudah cukup bosan (atau bahkan mu to the ak) dengan berbagai janji surga mereka dan gombalan mereka, KECUALI ya itu tadi seperti yang sebelumnya sudah saya utarakan: “anyone who can make my mom become depent on him. Nah kalau untuk yang satu ini, ga pake nanti2 deh, sekarang aja yukz, halahhh,,angger ateul maneh mah Yuuuuu!!! Hihihihihihi………….

Advertisements

6 thoughts on “The One -mom’s version-

  1. wewwww…. guess you have reach the peak of boredom :p
    mariiii tetep berdoa minta yang terbaik ya yuuuu…
    may you found the best one at the best time!! 😉
    cheer up!! and keep shine on! 😀

    • YOU’RE RIGHT! Sekarang sih memanfaatkan sebaik2nya ‘me’ time ini, just me with all of you not with ‘the one’. Oh iya dan dengan dengan rekening tabungan, klo rekening tabungan udah ada isinya, baru deh mikirin siy ‘the one’ ini :D….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s