Idealis vs Realistis

Idealisme yang pernah ada di otak saya:

  • Ingin jadi dokter
  • Punya pacar dan suami dari Jawa (bukan Jawa Barat)
  • Punya pacar dan suami yang berusiakan 3 sampai 5 tahun lebih tua dari saya
  • Nikah paling lambat di umur 25 tahun

Kondisi realistis:

Point 1 dan 4 sudah lewat target semua. Untuk sisanya, saat ini hanya menjadi sebuah idealisme masa lalu semata, karena real nya adalah ya sampai saat ini saya tidak melihat suku ataupun usia (tapi ya klo bisa jgn lebih muda juga ya :D).

Apakah saya sedang mengeluh? Oh..engga….sangat tidak. Alhamdulillah sepertinya kata yg paling pas untuk semua yg sudah saya dapatkan sampai detik ini. Ada beberapa yg bilang kok ‘master’ kerjaannya cuma gtu doank sih? Bagi saya selama kerjaan itu halal dan memang bisa menghasilkan sesuatu ya kenapa harus ditolak sih, apa bedanya sih orang bergelar master sama diploma? Ya oke memang beda dalam proses mendapatkan gelar tersebut, tp dalam dunia kerja oh plis…ga usah lah milih2 klo memang masih pemula, toh para diploma yang ada sekarang ga lebih bodoh kok dari para master, pada akhirnya pasti nanti kalian akan saling membutuhkan. Banyak yg berpikir kalau lulusan institut gajah duduk ini sulit untuk bekerja sama dgn orang lain dan terlalu idealis dalam suatu pemikiran, ya Allah..jauhkan si saya dari anggapan itu ya. Saya hanya tau, ya kalau mau sukses usaha keras dari nol, tekun, dan perbanyak link, ga perlu mikir kerjaan ini layak atau tidak untuk dikerjakan atau orang ini layak dijadikan partner kerja atau tidak.

Untuk masalah jodoh, nah..sepertinya penjelasan yg tepat untuk ini tercantum pada lirik lagu Afgan yg Jodoh Pasti Bertemu. Saya sudah tidak mau lagi banyak statement ttg ini, krn saya sudah masuk pada tahap pasrah dan yakin sama semua rencana Allah :).

Pada intinya saya bukan tipe orang idealis, meskipun menurut saya terkadang idealis itu diperlukan untuk suatu perubahan dari kondisi real yang memang tidak sesuai dengan logika atau kata hati kita. Eh, tapi kalau saya sudah diperistri seseorang ada satu idealisme saya yg mungkin agak sedikit sulit untuk diusik, Saya tidak mau jauh dari suami, saya mau membesarkan anak saya sendiri, pokoknya semua hidup saya hanya utk keluarga. Itu sih kewajiban istri yak, bukan idealisme saya :D.

Sekian coretan iseng di pagi menuju siang yang super bikin ngebul dan euweuh gawe to the max….

Advertisements

One thought on “Idealis vs Realistis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s