Rumah Tasikmalaya

Saya pernah bercerita kalau saya selalu menjahit beberapa kebaya yang saya anggap memang harus perfecto itu ya di Tasikmalaya. Sebuah kabupaten yang menjelma menjadi sebuah kota sekitar tahun 2001 (cmiiw). Sekarang saya mau sedikit ngedongeng tentang ‘sedikit’ hubungan saya dengan kota ini ya.

Jadi dari saya kecil bahkan dari saya belum dilahirkan kali ya, kami selalu dan wajib berkunjung ke kota ini untuk merayakan lebaran, entah itu Idul Fitri atau Idul Adha. Minimal ya 2 x setahun, kenyataannya sih bisa sebulan sekali, bahkan bisa 2 minggu sekali. Kami ini adalah seluruh keluarga dari Mama, karena Tasikmalaya ini tempat kelahiran Mama. Rutinitas ini akhirnya berhenti di tahun 2004, saat Emih (Ibu dari Mama) meninggal dunia. Sejak beliau tidak ada, para uwa, sepupu, dan keponankan semuanya jadi lebaran masing2 dengan keluarga masing2. Perubahan itu super sangat berasa. *Oke jadi kangen Emih :(*. Yang biasanya H-3 lebaran itu udh kumpul di Tasik, emak2 yg udah riweuh binti heboh dengan kostum seragam lebaran ala Tasik semua donk pastinya, tukang bakso yang udah dikudeta untuk satu komplek (kebetulan satu komplek itu masih ada hubungan darah juga), kembang api yang sudah digantung2 di taman dan dinyalakan saat malam takbiran, bocah2 yg sibuk nyiapin tas kecil buat angpau, metikin biji hitam dari bunga apaaaa itu ya yg buat maen kaleci *ishhh..kaleci pisan*, ah pokoknya segala keributan yang dibuat lebih dari 8 keluarga, semua itu hilang sejak Emih ga ada. Kangen :(.

Nah..selama semua di Tasik, kami tinggal di satu rumah yang mana itu rumah dari almarhum buyut kami. Rumah yang cukup besar bagi kami 8 keluarga ini berkumpul dan tidur bagai pindang di ruang keluarga :D. Rumah ini pun berada tepat di pinggir jalan arteri yang memang merupakan jalur publik bila ingin menuju ke Manonjaya dan seterusnya ke arah timur, jadi lumayan cukup membuat padat si jalan tersebut kalau kita lagi riweuh halal bihalal. Cerita ini dengan sengaja saya buat karena rumah tersebut sudah tidak menjadi milik keluarga kami lagi #HIKZZZ T.T. Meskipun kami sudah jarang ke Tasik, namun di saat ziarah ke Manonjaya menjelang lebaran, kami masih mampir ke rumah tersebut, atau bahkan hanya untuk menjahit kebaya saja. Jadi dengan kesepakatan seluruh keluarga besar, rumah itu sepakat dijual. Inilah sedikit gambaran rumah tersebut kala terakhir saya berkunjung di bulan Agustus kemarin. Saya tidak tahu kalau ternyata 4 bulan yang lalu itu mungkin terakhir kali saya bisa gogoleran, tahu kalau akan laku sekarang, mungkin foto yang saya ambil lebih banyak dan saya ‘acak2’ dulu rumahnya 😀

Image

Foto di atas ini merupakan penampakan dari jalan komplek, jadi memang rumah kami ini menghadap 2 arah. Nah kalau dari sini nih, kami tetanggaan sama rumah ortu Susi Susanti, hehe #penting. Kegiatan kami dulu tidak begitu banyak kalau dari sisi ini, karena memang tidak terlalu besar tamannya dan agak sepi juga lingkungannya. Lain dengan foto yang di bawah ini nih..

Image

Nah itu tuh…TKP keributan kami di masa lalu. Tamannya lumayan besar, terasnya pun lumayan besar, jadinya rusuh deh :D. Mobil kami yang diparkir seenak gundul kami di pinggir jalan raya pun lumayan bikin rusuh jalan raya tersebut. Tempat saya berdiri untuk mengambil foto ini merupakan rumah dari adiknya Emih yang masih ada sampai sekarang, jadi mungkin yaaa..klo ke Tasik lagi ya hanya bisa berkunjung ke situ.

Terlalu banyak cerita dari rumah tersebut, semoga tanahnya (krn gosipnya bangunannya akan dihancurkan, huwaaaaaaaa T.T) bisa menjadi berkah untuk pemilik baru dan tentunya untuk lingkungan sekitar, aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s