Pilah Pilih Humi (1)

humiMau cerita kisah perjalanan si kami hunting si humi tempat berteduh untuk keluarga kecil kami nanti. Sebenarnya keputusan kami untuk mencari rumah ini ada yang bilang terlalu cepat, karena toh kan kami belum setahun menikah, mungkin dari sisi manajemen keuangan juga belum mantap, dll. Tapi saya pribadi mikirnya rumah itu salah satu investasi, nah yang namanya investasi kalau dinanti-nanti iraha teuing, ya pasti si harga rumah pun akan terus naik, jadi saya pikir ya lebih baik dari sekarang daripada si duit angpaw bulukan, mending jadi dp rumah kan kan kan :D. Selain itu juga si kami ingin mandiri, meskipun sekarang sudah serba sendiri, tapi tetap saja kami masih menempati rumah orang tua yg mana listrik masih dibayarin, alat masak sudah terima jadi, bahkan terkadang makan pun sudah terima jadi, sprei masih dicuciin, dan lain sebagainya. Awalnya pun si suami masih mikir-mikir, namun setelah ngobrol panjaaaaaang kali lebar, walhasil suami setuju untuk hunting terlebih dahulu, hehe.

Keputusan kami memang tergolong super kilat untuk pencarian rumah ini, tapi kami ga mau buru-buru dalam memutuskan rumah seperti apa yang menjadi target pencarian kami dan seperti apa cara pembayarannya, entah itu cash atau KPR. Sekarang saya mau sharing tentang beberapaΒ pertimbangan kami dalam pemilihan humi dulu saja ya:

1. Rumah Baru

Sebenarnya kalau rumah second namun kami langsung beli cash keras, mungkin akan lebih menguntungkan, tapi kebayang kalau dengan KPR, udah mah belum lunas, trus banyak item2 yang harus direnovasi, wah..gantung diri dah.

2. Kuldesak

Pertimbangan ini didasari dari kondisi kami berdua yang berkerja dari pagi sampai malam (ga gini2 amat sih), jadi membutuhkan keamanan tingkat tinggi. Nah, biasanya kuldesak ini salah satu kelebihan dari konsep perumahan town house, hanya satu gerbang untuk keluar masuk.

3. Akses

InsyaAllah suami dalam beberapa tahun ke depan atau bahkan untuk jangka panjang, tidak akan pindah2 kantor yang terletak di Jl. Soekarno Hatta (sejajaran SAMSAT), jadi ya intinya kami harus mencari rumah yang aksesnya lebih mudah dijangkau dari kantor suami, bukan kantor saya (kantor sayaaa?!?). Nah, kalau untuk saya pokoknya si perumahan ini jangan terlalu jauh dari jalan angkot, jangan sampe saya harus naik ojek lagi atau becak atau harus dijemput dan sebagainya, harusnya bisa saya papay dengan kaki sayah (sebenernya sekilo juga bisa yak dipapay, paling pingsan).

4. Tipe Minimalis

Ya…selain karena ukuran si kami yang mini (iye gw doank, laki gw mah tiang listrik :D), diusahakan rumah ini masih bisa bertahan dan cukup untuk kami sampai anak kami ada 2, ya..masih bisa lah ditinggali. Jangan terlalu besar lah intinya, karena kalau besar2 juga ribet ngebersihannya kali yak, ihihi.

5. Lingkungan

Inilah faktor yang menyebabkan si kami enggan untuk tinggal di apartemen. Awalnya saya bersikeras ke suami minimal di unit studio apartemen saja lah untuk latihan mandiri, namun akhirnya saya sadar benar juga kata suami, tinggal di apartemen itu sulit untuk bersosialisasi, kasihan anak2 kami nanti. Selain itu juga setelah saya browsing2, jauh lah bedanya investasi rumah sama apartemen, jauh lebih baik rumah. Biaya bulanan di apartemen juga lumayan, ada biaya service charge, sinking fund, air, dan listrik (lah sama aja yak sama rumah, haha). Engga sih, katanya tarif listrik di apartemen suka ngaco dan service charge juga tergantung luasan si unit, ya katanya tidak lebih menguntungkan lah dibanding rumah jika peruntukannya untuk rumah tinggal primer.

Itulah 5 faktor terpenting yang dijadikan patokan si kami untuk pemilihan humi. Sebenarnya ada satu faktor yang tidak kalah pentingnya bahkan bisa menjadi alasan terkuat, BLINK (bukan girl band unyu)! Ini nih..mau sebagus apapun, semurah apapun, seindah apapun, tapi kalo ga ngeblink, wah susah. Blink tuh seperti rasa sreg kali ya, ya begitulah, bahkan ada yang bilang cari rumah mah kayak cari jodoh, mimilikan mun ceuk urang sunda mah.

Oh iya kenapa biaya ga masuk pertimbangan, bukan karena loba duit (aamin ya Allah aamiin), tapi kami pikir pasaran harga rumah dengan tipe yang kami inginkan rata2 sama, dan kami pun sudah tahu kisaran harga rumah dengan tipe yang berdasarkan pertimbangan kami di atas tadi, jadi yaaa..pasrah. Jikalau rumah tersebut sudah sesuai dengan pertimbangan kami dan si harga jauuuuuh lebih murah dari pasaran ya berarti itu bonus dan rezeki dari Allah. Kembali merunut apa kata orang tua, mun geus rezeki na mah moal kamana, tul betul :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s